Monday, April 23, 2012

Homosistein Sebagai Faktor Risiko Penyakit Alzheimer


Pertumbuhan penduduk usia lanjut di seluruh dunia semakin bertambah. Yang disebut sebagai manusia usia lanjut adalah mereka yang berumur lebih dari 60 tahun. Di Indonesia saja, pada kurun waktu 2005-2010 diperkirakan akan menyamai jumlah balita yaitu sekitar 8,5% dari jumlah seluruh penduduk atau sekitar 19 juta jiwa. Hal ini merupakan tantangan bagi kita semua untuk dapat mempertahankan kesehatan dan kemandirian para lanjut usia agar tidak menjadi beban bagi dirinya, keluarga maupun masyarakat. Dari jumlah itu, sekitar 15% diantaranya mengalami demensia atau pikun, disamping penyakit degeneratif lainnya seperti kanker, jantung, reumatik, osteoporosis, katarak dan lain sebagainya.

Demensia atau pikun adalah salah satu penyakit yang ditandai dengan adanya gangguan daya pikir dan daya ingat yang bersifat progresif disertai dengan gangguan berbicara, perubahan kepribadian dan perilaku. Gejala pikun biasanya meningkat seiring pertambahan usia. Akan tetapi perlu diketahui bahwa pikun bukanlah merupakan gejala normal dari proses penuaan.

Di negara-negara maju sekitar 60% dari penyebab pikun adalah Alzheimer, yaitu menurunnya kemampuan berpikir akibat rusaknya jaringan otak. Penyakit Alzheimer merupakan salah satu batu sandungan dalam perjalanan hidup para lanjut usia selain kanker, stroke, diabetes dan penyakit jantung. Pikun akibat penyakit alzheimer paling ditakuti oleh para masyarakat lanjut usia dewasa ini. Mengapa? karena penyakit alzheimer terkenal sebagai proses menahun tetapi progresif. Oleh karena itu penting untuk menentukan faktor-faktor risiko penyakit alzheimer sehingga dapat dilakukan pencegahan kondisi pikun dan meningkatkan kualitas hidup individu saat di usia lanjut.

Homosisten merupakan asam amino (penyusun protein) yang menarik banyak perhatian sebagai faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Peningkatan homosisten biasanya mengakibatkan terjadinya kerusakan pada pembuluh darah dan meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung koroner dan stroke. Pada usia lanjut, peningkatan homosisten sangat berhubungan pula dengan peningkatan risiko penyakit alzheimer. Peningkatan asam amino sebesar 5 u:mol dapat menyebabkan meningkatkan risiko penyakit alzheimer sampai sebesar 40%.

Untuk sekedar diketahui, beberapa cara bagaimana peningkatan homosisten dapat menyebabkan demensia/pikun adalah:
  • Peningkatan homosisten terkait dengan peningkatan risiko penyumbatan pembuluh darah dan stroke sehingga akan meningkatkan risiko penyakit alzheimer.
  • Peningkatan homosisten dikaitkan dengan kerusakan pembuluh darah dan peningkatan radikal bebas yang dapat mengakibatkan penuaan otak.
  • Peningkatan homosisten dikaitkan dengan kematian sel-sel otak mengakibatkan terjadinya gangguan daya ingat dan daya pikir.
  • Peningkatan homosisten yang tinggi berkorelasi dengan peningkatan kerusakan otak bagian cortical dan hippocampal sehingga risiko kepikunan meningkat.
Kesimpulan:
Peningkatan konsentrasi homosisten (hiperhomosisteinemia) selain merupakan faktor risiko untuk terjadinya penyakit jantung dan stroke, juga merupakan faktor risiko independen untuk perkembangan kondisi demensia/pikun serta Penyakit Alzheimer. (Dari berbagai sumber /Ilustrasi gambar oleh: http://www.stemcelltreatments.in ).

Bersih-Bersih Rumah Perkecil Risiko Alzheimer

Lifestyle + / Senin, 23 April 2012 05:20 WIB
Metrotvnews.com, California: Tetap aktif dapat mengurangi risiko penyakit alzheimer bahkan pada orang yang berusia di atas 80 tahun. Dalam sebuah studi, peneliti meminta 716 sukarelawan dengan usia rata-rata 82 tahun untuk memakai perangkat yang memonitor kegiatan mereka.

Peserta penelitian juga diberikan tes kognitif untuk mengukur memori dan kemampuan berpikir. Setelah sekitar tiga tahun, 71 dari para relawan mengalami penyakit alzheimer. Temuan muncul dalam edisi online jurnal Neurology. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang tidak aktif dua kali lebih mungkin untuk mengembangkan penyakit ini daripada mereka yang aktif.

Dr Aron Buchman dari Rush University Medical Centre di Chicago mengatakan, "Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa semua kegiatan fisik termasuk olahraga serta kegiatan lain seperti memasak, mencuci piring, dan membersihkan berhubungan dengan penurunan risiko alzheimer.

"Hasil ini mendukung upaya untuk mendorong semua jenis aktivitas fisik bahkan pada lansia yang mungkin tidak dapat berpartisipasi dalam olahraga, tetapi masih bisa mendapatkan keuntungan dari gaya hidup yang lebih aktif."

Dr Anne Corbett, manajer penelitian mengatakan, "Latihan fisik secara teratur merupakan cara penting untuk mengurangi resiko terkena demensia. Ini dapat mengurangi risiko hingga 45 persen. Studi ini menambahkan bukti dan menunjukkan bahwa hal-hal sederhana seperti memasak dan membersihkan rumah juga dapat membuat perbedaan."

Ia melanjutkan, satu dari tiga orang berusia di atas 65 tahun akan meninggal karena demensia. Dengan hasil studi ini, terlihat ada hal-hal yang dapat Anda lakukan untuk membantu mengurangi risiko. Penting pula untuk menjaga berat badan dan berhenti merokok."(MI/wtr6)
 Bacaan terkait silahkan lihat disini:
- Hiperhomosisteinemia dan risiko stroke
- Hiperhomosisteinemia dan Faktor Risiko Kelainan Vaskuleri
- Gejala Penyakit Alzheimer

1 komentar: