Wednesday, December 9, 2009

Kongkalikong Bisnis Carstenz Piramid

Beberapa minggu terakhir sejumlah koran lokal dan nasional memberitakan tentang misi pendakian ke puncak Carstensz Piramid yang dipimpin oleh Dinas Pariwisata Provinsi Papua bersama sekitar 11 pendaki asal Austria, Switzerland. dan Jerman.

Kabarnya, mereka telah berhasil ke Carstenz sekitar 24-26 Oktober. Harapan dari misi itu, sudah tentu tim ekspedisi bisa mendapatkan gambaran yang memadai tentang kondisi objek wisata di puncak gunung ini. Sehingga di waktu mendatang Puncak Carstenz berketinggian 4.884 meter dari permukaan laut satu dari 7 keajaiban dunia dapat dikelola menjadi daerah tujuan wisata yang penting di Papua. Bisa memberikan manfaat bagi pemerintah daerah dan khususnya masyarakat ulayat setempat. Sudah tentu dengan tetap memperhatikan aspek pelestarian lingkungan sekitar puncak salju abadi itu.

Terlepas dari pemberitaan tentang misi tersebut, ada hal yang cukup membuat saya penasaran dan mengganggu keingintahuan. Ternyata jauh sebelumnya, puncak gunung tertinggi ini telah dilirik berbagai pihak di dunia sebagai tempat tujuan wisata. Namun, kita di Papua sendiri baru mulai sadar dan berusaha untuk memanfaatkannya sebagai aset wisata daerah yang cukup penting untuk target devisa daerah dan sebagai sarana mempopulerkan Papua ke seluruh dunia.

Padahal berita lain menyebutkan, dalam setahun sekitar 200-300 orang asing asal Eropa, Amerika dan Asia telah mendaki ke Carstenz. Dengan demikian, selama ini pemerintah daerah dan Masyarakat Papua, bisa dikatakan, “kecolongan.” Ini terjadi, jika para wisatawan (pendaki) tanpa sepengetahuan Pemerintah Provinsi Papua. Selain pihak imigrasi, apakah Dinas Pariwisata Provinsi dan kabupaten-kabupaten setempat selama ini juga mengetahui?



Kalau belum, mulai sekarang pihak-pihak terkait harus mulai memantau untuk mendata dan mengetahui lalu lintas wisatawan ke Carstenz. Tujuan lain adalah mengingat medan di sekitar gunung itu cukup berat dan jika sewaktu-waktu terjadi kecelakaan, pemerintah daerah juga bertanggungjawab dalam penanganan. Apalagi, menyangkut warga negara asing, yang sudah tentu akan melibatkan pemerintah pusat dan merepotkan banyak pihak.

Selama ini, kami belum pernah mendengar biro-biro jasa perjalanan di daerah maupun pemerintah daerah sendiri melaporkan mereka tentang adanya tim-tim ekspedisi bepergian ke Carstenz. Semoga saja para pelancong alam dari luar itu tidak kongkalikong dengan pihak-pihak tertentu di Jakarta dan memuluskan pendakian-pendakian wisata ke Carstenz Piramid selama ini.

Pihak-pihak luar yang selama ini telah secara diam-diam mempromosikan dan menjual objek wisata andalan Papua, kemungkinan sama sekali tidak berkoordinasi dengan pemerintah-pemerintah daerah kabupaten sekitarnya dan Pemerintah Provinsi Papua. Penasaran, saya mencoba membuka website internet address. Cukup mengagetkan. Puncak Carstenz satu dari tujuh puncak ajaib di dunia ternyata secara terselubung sudah “dijual” di internet. Tak sedikit peminat dan pencinta alam kemudian tertarik melakukan perjalanan wisata ke gunung es Papua itu.

[Photo by: Exposed Planet.com]

Beberapa dari mereka telah melakukan promo menawarkan paket wisata pendakian ke Carstenz dengan menjelaskan rute dan memasang tarif perjalanannya. Dalam rencana perjalanan, biro-biro perjalanan itu membuat aturan-aturan dan informasi sendiri kepada para pendaki yang hendak ke Carstenz. Termasuk di syaratkan harus tidak boleh kurang dari 6 orang. Setelah para calon pendaki melihat informasi promo di internet dan jika berminat, cukup mengirimkan email pendaftaran ke alamat perusahaan wisata tersebut. Selanjutnya, perusahaan mengatur seluruh jadwal rencana tur ke Carstenz.

Misalnya, perusahaan travel wisata “Carstenz Papua” yang beralamat di Belcredibo 628 Czech, Republik Uni Eropa. Ia sudah memasang Schedule of Carstenz Pyramid expeditions for year 2009. Dalam tahun ini Carstenz Papua memposting delapan kali jadwal ekspedisi yang bisa dilihat di alamat internet CarstenzPapua. Com.

Di jadwal, tercantum 15-28 Februari, 2-23 Maret, 12-25 April, 27 April-18 May, 26 Juni-8 Agustus, 10-31 September, 30 November-13 Desember dan 30 November-20 Desember. Seluruhnya dilakukan dengan cara Trekking Climbing and Helicopters Climbing. Rata-rata perjalanan 22 hari, dimulai dari Jakarta ke Papua dan berakhir lagi di Jakarta.

Ada juga Basecamp Mountain Guiding Carstenz dengan alamat website, basecamp.co. uk yang juga memuat jadwal trekking to Carstenz. Urutan perjalanan dimulai dari Bali ke Papua dan kembali lagi ke Bali. Rencana trekking akan dilakukan pada 14-30 Maret 2010. Dengan aktivitas, tiba di Bali, terbang ke Papua, terbang ke Sugapa, trek to Cartenz, trek to Sugapa, Fly to Timika, Fly to Bali and Fly home. Kode alamat internet ini, sepertinya didesain dan pemilik usaha ini berkedudukan di United Kingdom (UK) atau negara Inggris di Eropa Barat.

Sedangkan Heidi Zimmer dengan alamat internet www.heidizimmer. com memasang informasi perjalanan yang akan dilaksanakan pada 19 November-3 Desember 2009. Seterusnya, Carstenz Peak Trekking Travel Information atau Puncak Jaya Wijaya Trekking atau Carstenz Pyramid Expedition yang “http://lombokmarine .com/carstenz- peak-trekking mengumumkan rute ekspedisi Carstenz 2009 jatuh pada 9-21 April 2009, 09-21 Mei 2009, 01 Agustus -5 September 2009, 26 September-31 Oktober 2009 dan 19 November-3 Desember 2009.

Perjalanan ke Carstenz ini akan menggunakan jalur tradisional Kampung Ilaga, Kabupaten Puncak. Jadwal perjalanannya, tiba di Jakarta, berangkat ke Biak, dari Biak ke Nabire, dari Nabire ke Ilaga dengan pesawat carteran jenis Twin Otter, dari Ilaga ke Base Camp dan Lembah Danau-Danau untuk penyesuaian iklim, mendaki ke Carstenz Piramid. Kembali ke Ilaga, terbang ke Nabire dengan pesawat carteran atau helikopter, kembali Biak dan Jakarta.

Perusahaan travel ini mematok biaya ekspedisi termasuk akomodasi dan lain-lain sebesar US$11.000 (sekitar Rp 110 juta) per orang. Di website tersebut bisa dibaca, izin perjalanan didapatkan di Jakarta dalam bentuk Security Clearance & Traveling Permit.

Mencermati tawaran dan promosi-promosi di internet untuk memperdagangkan secara diam-diam satu objek alam Papua ini, seharusnya kita di Papua mulai menyadari untuk mengambil langkah-langkah menyelamatkan Carstenz dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab dan hanya mencari untung secara sepihak dengan menjual potensi wisata alam daerah tanpa sepengetahuan kita.

Orang-orang asing itu telah merampas sebagian dari kedaulatan negara dan otoritas ulayat (adat) kita dan bersindikasi secara gelap dengan oknum-oknum tertentu di Jakarta. Mereka secara mafianisme mengatasnamakan pemerintah dan meloloskan para pendaki itu ber-trekking- ria ke Puncak Carstenz.

Jalur bisnis turisme gelap ini harus dipotong dan dikembalikan kepada pemerintah daerah dan Masyarakat Adat Papua.

Ada informasi, ekspedisi awal di bawah pimpinan Dinas Pariwisata Provinsi atas perintah Gubernur Papua, kini menjadi titik awal untuk mulai memfokus Carstenz dikelola secara Papua. Dengan menggandeng Biro Perjalanan Carstenz Adventure pimpinan Masmus Tipagau putra asli Ugimba-Tsugapa, Moni dari Kabupaten Intan Jaya sejarah baru pengelolaan situs wisata Carstenz telah dimulai. Kita pantas memberikan dukungan penuh untuk keberlangsungannya. Mengingat selain dukungan pemerintah, masyarakat ulayat di wilayah tersebut juga telah berkomitmen untuk mendukung pemerintah Provinsi Papua menggiatkan pengembangan kepariwisataan di area sekitar Carstenz.

Seorang teman, pemilik ulayat di Ilaga Kabupaten Puncak yang kampungnya selama ini menjadi jalur para pendaki juga mengaku masyarakatnya pun tengah berpikir untuk membantu pemerintah menggiatkan potensi wisata Carstenz. Karena selama ini, hanya ada dua jalur pendakian Carstenz, yakni melalui Tsugapa/Ugimba, Kabupaten Intan Jaya dan Ilaga, Kabupaten Puncak.

Dalam rangka membuka wilayah tersebut sebagai daerah tujuan wisata, pemerintah daerah, termasuk dua kabupaten tersebut juga perlu membuka dan menyediakan akses yang lancar melalui dua wilayah tersebut. Sehingga para turis tidak lagi kebingungan, bepergian diam-diam tanpa pengawasan dan pemantauan pemerintah daerah.

Sekadar diketahui, di seluruh bumi terdapat 7 puncak tertinggi dunia: Carstenz Piramid di Papua, Himalaya/Everest di Asia, Elbrus di Eropa, Kilimanjaro di Afrika, McKinley di Amerika Utara, Aconcagua di Amerika Selatan dan Vinson di Kutub Selatan.

Oleh: Gasper Muabuay; Pemerhati masalah sosial, tinggal di Timika, Papua
Source: tabloidjubi.com

0 komentar:

Post a Comment