Tuesday, December 1, 2009

Hukuman Vs Keadilan


"Based on True Story"

Seorang pria membawa pulang sebuah mobil baru kebanggaannya, kemudian ia meninggalkan mobil tersebut sejenak untuk melakukan kegiatan lain.

Anak lelakinya yang berumur 3 tahun sangat gembira melihat ada mobil baru. Tanpa disadarinya, ia memukul-mukulkan palu yang dipegangnya ke badan mobil baru tersebut. Akibatnya mobil baru itu pun penyok dan catnya tergores. Sang ayah berlari menghampiri anaknya dan sangat marah karena mobil barunya rusak (penyok). Serta merta dipukulnya anak itu; memukul tangan anaknya dengan palu sebagai hukuman. Anak itu pun menangis sejadi-jadinya karena seluruh jari tangannya hancur. Setelah sang ayah tenang kembali, dia segera membawa anaknya ke rumah sakit.

Walaupun dokter telah mencoba segala usaha untuk menyelamatkan jari-jari anak yang hancur karena pukulan ayahnya, tetapi dokter tetap gagal. Dokter pun memutuskan untuk melakukan amputasi semua jari pada kedua tangan anak kecil itu.

3 bulan kemudian...

Anak itu memandang kedua tangannya. Sekarang dia sudah tidak memiliki jari. Dengan polos ia berkata kepada ayahnya yang sedang membersihkan mobilnya;
"Papa, aku minta maaf tentang mobilmu." Ayahnya cuma tersenyum. Kemudian, anak itu melanjutkan kata-katanya, "sukurlah mobil papa sudah bagus kembali walaupun harus mengeluarkan uang untuk ke bengkel." Sang ayah pun masih tetap tersenyum.

"Tapi, papa...?" anak itu menatap ayahnya
"Kenapa, nak ?" balas sang ayah bertanya.
Sambil melirik kedua tangannya, anak itu berkata "tetapi kapan jari- jariku akan tumbuh kembali?"

Terlalu sering kita gagal untuk membedakan antara orang dan perbuatannya, kita seringkali lupa bahwa mengampuni lebih besar daripada membalas dendam. Orang dapat berbuat salah. Tetapi, hukuman yang kita jatuhkan harus sesuai azas keadilan. Mobil yang penyok dapat diperbaiki untuk baik kembali. Tetapi, jari-jari tangan yang telah hancur tidak akan pernah tumbuh kembali. Hukuman yang ditetapkan dalam kemarahan akan dapat menghantui kita selamanya.

Tahan, tunda dan pikirkan sebelum mengambil tindakan. Mengampuni dan melupakan adalah cermin mengasihi satu dengan lainnya. Janganlah kita melakukan kesalahan yang dapat membayangi kehidupan kita kelak....... ..
yang menjadi sebuah inti hidup adalah "HATI"
hati yang dihiasi belas kasih dan cinta kasih.....
CINTA KASIH merupakan nafas kehidupan kita yang sesungguhnya..


3 Hari kemudian...

Polisi mengangkat mayat sang ayah bersama mobilnya dari dasar danau. Dugaan polisi sang ayah melakukan aksi bunuh diri bersama mobil barunya...

0 komentar:

Post a Comment